Apakah Taman Nasional Baluran Merupakan Tempat Pelestarian Banteng Jawa – Usaha pengembangbiakan Banteng jawa dilakukan secara natural di Taman Baluran sebagai upaya pencegahan kepunahannya. Bahkan upaya tersebut sudah dilakukan sejak lama karena banyak yang merasa prihatin akan keberlangsungan hidup dari salah satu spesies asli Indonesia ini.

Apakah Taman Nasional Baluran Merupakan Tempat Pelestarian Banteng Jawa?
Daftar Isi
Menurut catatan yang ada di Taman Baluran populasi Banteng Jawa atau yang dikenal dengan Bos Javanicus di area konservasi sampai saat ini berkisar kurang lebih 211 ekor. Jumlah populasi tersebut diambil dari data yang berasal dari camera trap atau kamera jebakan yang diletakkan di sejumlah titik di area hutan konservasi sebagai upaya perlindungan satwa liar.
Taman Baluran terus mengupayakan agar populasi Banteng Jawa ini meningkat setiap tahunnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambah induk jantan Banteng yang difungsikan sebagai pejantan untuk banteng betina yang berjumlah lima ekor di penangkaran.
Indukan jantan yang didatangkan dari Taman Prigen ini juga sedang dikembangbiakkan secara semi alami agar tidak terjadi kepunahan. Dengan dimikian diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan populasi Banteng Jawa yang ada di Baluran.

Apa Saja Fakta Unik Dari Banteng Jawa Yang Harus Diketahui?
-
Hewan yang Aktif di Siang Hari
Banteng Jawa adalah satwa yang aktif di siang hari atau yang disebut dengan diurnal meskipun juga aktif ketika malam tiba apabila berada di area yang terdapat manusianya. Biasanya hewan ini akan hidup secara berkelompok yang terdiri dari dua hingga 40 ekor. Namun di dalam satu kelompok tersebut biasanya hanya ada satu banteng yang berkelamin jantan di sana. Cara berkomunikasi Banteng Jawa adalah dengan menggunakan vokalisasi khususnya ketika tiba musim kawin untuk menarik banteng betina.
-
Dapat Membedakan Banteng Betina dan Jantan dengan Jelas
Ciri khas dari Banteng Jawa adalah memiliki corak putih pada bagian kaki dan bokongnya yang biasanya ada pada banteng betina dan jantan. Tetapi untuk membedakan mana Banteng betina dan jantan bisa dibedakan lewat fisiknya karena untuk yang betina tubuhnya berwarna cokelat kemerahan dengan tanduk yang tumbuh ke belakang kepala. Sementara Banteng jantan warnanya hitam kecokelatan dengan tanduk yang tumbuh condong ke atas. Ukuran tanduk dan tubuh banteng jantan tentu saja lebih besar daripada Banteng betina sehingga perpedaannya bisa dilihat dengan jelas.
-
Poligami
Sistem perkawinan yang dimiliki Banteng Jawa adalah poligami di mana satu Banteng jantan bisa berkembang biak dengan sejumlah Banteng betina. Banteng betina akan mendapatkan periode kehamilan sekitar 9,5 bulan dan biasanya melahirkan satu ekor anak.
Induk Banteng akan menjaga dan merawat anaknya selama enam hingga sembilan bulan. Kemudian Banteng bisa hidup sendiri hingga akhirnya mencapai umur matang saat berusia dua hingga tiga tahun.
-
Sering Kali Menjilati Garam
Banteng jawa adalah herbivora yang mengonsumsi bunga, daun, rumput hingga buah dan biasanya akan mencari makanan di kawasan terbuka seperti savanna atau padang rumput. Banteng memang bisa bertahan hidup tanpa mengonsumsi air saat kekeringan namun tetap akan mengonsumsi air secara rutin saat tersedia dan mudah untuk di dapat. Banteng Jawa juga acap kali menjilati garam untuk memenuhi nutrisinya. Saat berkeliaran di alam liar, Banteng Jawa akan mengonsumsi air laut untuk menggantikan garam.
-
Terancam Punah
Populasi Banteng Jawa di hutan diprediksi hanya kurang lebih 5000 hingga 8000 ekor sehingga cukup terancam. Hal tersebut terjadi karena banteng cukup rentan terhadap penyakit, habitatnya hilang karena lahan dialih fungsikan dan akibat perburuan liar.
Banteng Jawa bisa menjadi indukan bagi sejumlah spesies endoparasit seperti cacing usus dan cacing hati, yang bisa mengakibatkan rusaknya organ tubuh. Banteng juga mudah terserang diare hingga penyakit kulit yang bisa mengakibatkan kematian.
-
Domestikasi Banteng Jawa
Domestikasi Banteng Jawa sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu dan kemudian menghasilkan Sapi Bali yang bisa bertahan di cuaca lembap dan panas. Uniknya lagi ternyata Sapi Bali hasil domestikasi tersebut juga bisa tumbuh dengan baik meskipun makanannya berkualitas buruk.
Upaya krusial untuk mencegah Banteng Jawa mengalami kepunahan yaitu dengan memberlakukan status perlindungan lewat peraturan perundang-undangan. Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencegah kepunahannya adalah melakukan aktivitas sistematis yang diadakan secara ex-situ yaitu di luar habitat bisa juga secara in-situ yaitu di dalam habitat.
Upaya konservasi juga tidak bisa dipisahkan dengan keterlibatan beberapa kebun binatang yang ada di Indonesia. Kebun binatang yang ada di Indonesia ini berkontribusi nyata terkait upaya untuk melestarikan hewan yang terancam punah di Indonesia.
Terdapat 62 kebun raya di Indonesia yang rata-rata sudah melakukan upaya konservasi dengan melakukan penangkaran hewan seperti Anoa, Babirusa serta Banteng Jawa. Namun ada kesulitan yang mereka hadapi yaitu untuk mempertahankan genetik agar jangan sampai tercampur.
Banteng Jawa adalah hewan yang sangat penting untuk ekosistem karena memiliki peran penting untuk siklus nutrien yang memiliki pengaruh akan tumbuh kembang tumbuhan. Satwa asli Jawa ini bisa menghasilkan kotoran yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk sejumlah tumbuhan. Tumbuhan tersebut juga menjadi sumber makanan untuk para Banteng Jawa dan hewan herbivora lainnya.

Baca juga : Open Trip Ijen Baluran
Sekarang Anda sudah tahu apakah Taman Nasional Baluran merupakan tempat pelestarian Banteng Jawa karena memang satwa ini dilestarikan atau dikembangbiakkan di sana. Jika Anda tertarik untuk menyaksikan Banteng Jawa secara langsung maka bisa mencoba untuk datang berkunjung. Jika Anda tertarik untuk mengunjungi Taman Baluran bisa menghubungi agen wisata terbaik Nahwa Tour di nomor 0812.2243.1414. Kami menyediakan berbagai paket wisata dan open trip yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.


